Home » » Kisah Lengkap Mimpi Usamah bin Ladin waktu kecil usia 9 tahun

Kisah Lengkap Mimpi Usamah bin Ladin waktu kecil usia 9 tahun

Buku pasukan panji hitam kelompok perlawanan sejak dari afghanistan hingga suriah penerbit jazera
Kisah ini dimulai pada tahun 1960-an, ketika seorang kecil bernama Usamah bermimpi. Dia terlahir dari seorang ayah berdarah Yaman dan ibu yang berasal dari Syria. Anak itu sendiri lahir di Arab Saudi – Ketiga tempat tersebut adalah tanah suci Islam.

Sepanjang masa kanak-kanan dan remajanya, Usamah sudah tampak sebagai seorang Muslim yang baik, taat kepada orang tua dan lebih suka belajar ilmu agama daripada bermain-main teman sebayanya.

Seorang penuntut ilmu mengisahkan:

“Suatu saat aku berada di Madinah, di rumah seorang (Syaikh) yang biasa memberikan kuliah agama di Masjid Nabawi. Kami baru saja tiba di rumahnya, ketika seseorang mengetuk pintu. Syaikh kembali disertai seseorang dengan penampilan penuh aura cahaya dan terhormat, yang kira-kira berusia sekitar 80-an tahun.


Tuan rumah menyambut kedatatangan tamunya dan langsung menanyakan tafsir dari beberapa ayat Al-Quran. Dengan tenang kami dengarkan suara tamu tersebut ketika membacakan beberapa ayat Al-Quran lalu menyampaikan tafsirannya. Demi Allah, aku telah mempelajari sejumalh tafsir sejauh ini, namun Syaikh sang tamu itu benar-benar bagaikan lautan ilmu. Setelah selesai pelajaran yang beliau sampaikan, tuan rumah mengajaknya untuk makan bersama, namun ia menolak dengan sopan. Ternyata ia sedang berpuasa hari itu.

Akhirnya, sang tamu pamit undur diri, namun tuan rumah menahannya dengan mengatakan, “SEbelum Anda menceritakan kepada kami tentang mimpi Syaikh Usamah bin Ladin sekali lagi, aku tidak akan mengizinkan anda pergi.”

Tamu tersebut tersenyum dan bertanya, “Mimpi yang dialami Syaikh Usamah bin Ladin saat beliau berusia 9 tahun, maksudmu?” Sang tuan rumah mengangguk.

Aku adalah teman dekat Muhammad bin Ladin, ayah Usamah bin Ladin. Berkali-kali aku datang ke perusahannya. Dan kerap pula aku berkunjung ke rumahnya untuk urusan pekerjaan terkait proyek pembangunan. Disela-sela perbincangan, terkadang obrolan kami terganggu oleh anak-anaknya yang bermain, dan kemudian dia menyuruh mereka untuk pergi bermain keluar.”

‘Namun, aku heran mendapati dia selalu meminta seorang anak laki-lakinya untuk duduk disampingnya. AKu bertanya kepadanya, ‘Mengapa tidak engkau suruh anakmu ini bermain dengan saudara-saudaranya yang lain? Apa dia sakit?’

Muhammad bin Ladin tersenyum dan berkata, ‘Dia tidak sakit. ِAda yang istimewa pada anakku yang satu ini.’

Ketika aku tanya nama anak itu, ayahnya menjawab, ‘Namanya Usamah. Umurnya sembilan tahun. Aku akan ceritakan kepadamu suatu keanehan yang terjadi beberapa hari lalu.

Anakku ini bangun tidur beberapa menit sebelum waktu shalat subuh tiba dan bercerita kepadaku, ‘Ayah, aku ingin bercerita tentang mimpi yang aku alami.’ Aku kira dia baru saja bermimpi buruk malam itu. Aku ambil air wudhu, kemudian aku ajak dia ke masjid.

Di tengah jalan, ia berkata: ‘Dalam mimpiku itu, aku melihat diriku berada di sebuah tempat rata dan sangat luas. Aku melihat sepasukan tentara menunggang kuda putih bergerak ke arahku. Tentara-tentara itu seluruhnya mengenakan surban berwarna hitam. Salah seorang penunggang kuda, dengan matanya yang berkilau, mendatangiku dan bertanya, ‘Apakah kamu Usamah bin Muhammad bin Ladin?’ Aku menjawab, ‘Ya’
.
Kemudian dia bertanya lagi, ‘Apakah kamu Usamah bin Muhammad bin Ladin?’ Aku jawab lagi, ‘Ya, benar. Itu nama saya.’ Dia ulang kembali pertanyaannya, ‘Apakah kamu Usamah bin Muhammad bin Ladin?’ kemudian saya jawab, ‘Demi Allah, aku adalah Usamah bin Ladin.’ Dia menganggkat sebuah bendera ke arahku dan berkata, ‘Serahkan bendera ini kepada Imam Mahdi Muhammad bin Abdullah di gerbang Al-Quds.’ AKu raih bendera itu dari tangannya, dan kemudian aku lihat para tentara itu berjalan beriringan di belakangku.’

Muhammad bin Ladin berkata, ‘Aku Tercengang mendengarnya. Namun karena urusan pekerjaan, aku lupa tentang mimpi itu. Pagi hari berikutnya, dia membangunkanku sebelum Shubuh dan menceritakan mimpi yang sama. Kejadian itu berulang lagi di pagi ketiga. Di hari ketiga itu, aku mulai mengkhawatirkan anakku ini. Aku memutuskan untuk membawa anakku kepada orang alim yang mahir tentang tafsir mimpi.’

‘Oleh sebab itu, aku bawa Usamah kepada seseorang alim dan aku ceritakan semua rangkaian kejadian itu. Dia menatap kami penuh heran dan bertanya, ‘Apakah anakmu ini anak yang sama yang mengalami mimpi itu?’ Aku jawab, ‘Ya.’ Dia memandangi Usamah beberapa saat. Rasa kecemasanku bertambah. Dia menenangkanku dan berkata, ‘Aku akan bertanya beberapa hal kepadamu. Aku yakin kamu akan jujur menjawabnya.’.’

Dia bertanya kepada Usamah, ‘Nak, apa kamu masih ingat dengan bendera yang diberikan oleh penunggang kuda kepadamu? Usamah menjawab, ‘Ya, saya masih ingat.’

Dia bertanya lagi kepada Usamah, ‘Bisa kamu gambarkan seperti apa bendera itu?’

Usamah menjawab, ‘Bendera itu sama seperti bendera Arab Saudi, hanya saja warnanya tidak hijau, tapi hitam. Dan, ada suatu tulisan berwarna putih di bendera itu.’

Lalu, dia menyampaikan pertanyaan berikutnya kepada Usamah, ‘Apakah kamu pernah bermimpi kamu juga berperang?’ Usamah menyahut, ‘Saya sering bermimpi seperti itu.’ Kemudian orangitu menyuruh Usamah keluar dan membaca Al-QUran di luar ruangan.

Ia lantas beralih kepadaku dan bertanya, ‘Darimana nenek-moyangmu berasal?’

Aku jawab, ‘Dari Hadhramaut, Yaman.’ Lalu, dia meminta saya bercerita tentang suku asalku. Saya beritahu dia bahwa suku kami mempunyai hubungan dengan suku Shanwah yang merupakan salah satu bagian suku Qahthan di Yaman.’

Tiba-tiba ia meneriakkan takbir keras-keras dan memanggil Usamah dan menciumnya sambila berisak tangis. Dia juga mengatakan bahwa tanda-tanda Kiamat telah dekat.

‘Wahai Muhammad bin Ladin, anak laki-lakimu ini kelak akan menyiapkan sebuah pasukan untuk Imam Mahdi. Dan, demi melindungi agamanya, ia kelak akan berhijrah ke daerah Khurasan (Afghanistan). Wahai Usamah! Sungguh beruntung orang yang berjihad bersamamu dan rugi dan kecewalah orang yang meninggalkanmu sendiri dan justeru berperang melawanmu’.”

Disadur dari buku: Pasukan Panji Hitam Akhir Zaman Afghanistan Suriah Penerbit Jazera
Judul bab: Mukadimah Mimpi Seorang Bocah hal 15-19

Author by: Firman Syah
Share this article :

3 komentar:

Topics :

Sahabat Coretan'e Anazt

 
Support : PPI Darusy Syahadah | Percetakan Ivorie | Jasa Cetak Murah
Copyright © 2013. Coretan'e Anazt - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Haedar Erflog
Proudly powered by Blogger